Kegiatan tersebut merupakan bagian dari sinergi TNI dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui panen tiga komoditas strategis yang dilaksanakan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia, yakni tebu oleh TNI Angkatan Udara, kedelai oleh TNI Angkatan Laut, serta padi oleh TNI Angkatan Darat.
Setibanya di lokasi, Kepala Negara meninjau insinerator atau alat pembakar sampah, serta melihat berbagai hasil dan inisiatif hilirisasi yang dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian sekaligus memperkuat industri nasional. Kedatangan Kepala Negara disambut dengan pertunjukan Tari Beskalan Putri, sebelum kemudian meninjau sejumlah stan yang menampilkan program-program unggulan TNI di bidang ketahanan pangan.
Presiden Prabowo kemudian menyaksikan secara langsung proses panen raya tebu yang dilaksanakan di Lanud Abdulrachman Saleh. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari panen raya serentak yang dilaksanakan secara nasional sebagai wujud kolaborasi TNI dalam memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Dalam laporannya, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menyampaikan bahwa panen raya serentak tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pendampingan terpadu oleh seluruh matra TNI.
“Menindaklanjuti arahan Bapak Presiden, TNI melaksanakan pendampingan terpadu, TNI Angkatan Udara pada komoditas tebu, TNI Angkatan Laut pada komoditas kedelai, dan TNI Angkatan Darat pada komoditas padi,” ujar Panglima TNI.
Secara khusus, Panglima TNI menjelaskan bahwa panen tebu di Lanud Abdulrachman Saleh mencakup lahan seluas 800,5 hektare dengan estimasi hasil panen mencapai 72.045 ton.
“Luas siap panen mencapai 800,5 hektare dengan estimasi hasil 72.045 ton dengan nilai diterima pabrik rata-rata Rp720 ribu per ton. Hilirisasi tebu turut menghasilkan molase, bioetanol, industri ataupun farmasi, pupuk organik, dan produk turunan lainnya yang meningkatkan nilai bagi perekonomian nasional,” lanjutnya.
Selanjutnya, Presiden Prabowo dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Panen Raya TNI Terintegrasi yang dilaksanakan secara serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Menurut Kepala Negara, kegiatan tersebut mencerminkan bahwa upaya mewujudkan ketahanan pangan merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh komponen bangsa.
“Saya ucapkan selamat atas terselenggaranya Panen Raya TNI terintegrasi yang dilaksanakan serentak di 43 titik di seluruh Indonesia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan Kementerian Pertanian, tetapi merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa,” ujar Presiden.
Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa keterlibatan TNI dalam mendukung sektor pangan merupakan wujud nyata pengabdian kepada rakyat. Kepala Negara menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Ini menunjukkan bahwa TNI dan Polri tidak hanya merupakan penjaga pertahanan dan keamanan negara, tapi TNI dan Polri adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari rakyat Indonesia. TNI dan Polri adalah anak kandung rakyat. TNI dan Polri harus selalu bersama rakyat di tengah-tengah rakyat. Kesulitan rakyat adalah kesulitan TNI dan Polri,” tegas Presiden.
Sementara itu bagi Yusuf, salah seorang petani yang berkesempatan berbincang langsung dengan Presiden, kehadiran Kepala Negara di tengah para petani menjadi bentuk perhatian nyata pemerintah terhadap sektor pertanian. Ia pun mengaku bangga melihat Presiden turun langsung menyaksikan hasil panen di lapangan.
“Saya merasa senang dan sangat bangga sekali, bahwa saat ini Bapak Presiden kita telah langsung terjun ke lapangan menyaksikan hasil panen kita yang sangat melimpah. Jadi dengan (kehadiran) Pak Presiden Prabowo saya kira sangat bagus sekali atas perkembangan pertanian saat ini,” ucap Yusuf.
Yusuf berharap dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian terus ditingkatkan agar petani makin semangat mengelola lahan dan menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
“Untuk harapan, petani harus tetap lebih ditingkat lagi agar rakyat Indonesia, petani khususnya bisa merasa lebih nyaman, lebih enak, lebih semangat untuk bertani. Jadi petani itu jangan sampai surut. Kita ingin langsung berlanjut sampai kapan pun kita tingkatkan untuk pertanian,” ucapnya penuh haru.
Hal senada disampaikan Muhammad yang mengaku bahagia dapat bertemu dan menyapa langsung Presiden Prabowo. Baginya, momen tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus memberikan semangat bagi para petani.
“Senang, senang. Saya bertemu dengan RI1 itu, saya sangat senang sekali. Ya, semoga Bapak Presiden beserta bawahannya juga masyarakatnya aman makmur, maju makmur,” tutur Muhammad.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Makmur Dua, Khoirul Anam, mengapresiasi kehadiran Presiden yang dinilainya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan langsung kondisi di lapangan.
“Alhamdulillah, kami ucapkan sebagai perwakilan dari suara masyarakat, Bapak Presiden telah sudi hadir datang dan langsung berpartisipasi dan bertemu masyarakat, bisa mengonfirmasi keluhan masyarakat dan mudah-mudahan ke depannya bisa berlanjut,” ucap Khoirul.
Khoirul juga menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai program pemerintah di bidang pertanian yang menurutnya telah memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya petani di wilayah Malang Raya.
“Alhamdulillah, sampai saat ini kepemimpinan beliau bagus sekali program-programnya. Sangat-sangat bisa memenuhi semua kebutuhan dan semua fasilitas masyarakat, khususnya di Malang Raya di Kecamatan Singosari,” ujarnya.
Kehadiran Presiden Prabowo di tengah para petani pada panen raya tebu tersebut menjadi simbol komitmen pemerintah untuk terus mendengar aspirasi dari lapangan sekaligus memperkuat sektor pertanian sebagai fondasi ketahanan pangan nasional. Melalui dialog langsung dengan para petani, pemerintah memastikan setiap kebijakan yang dijalankan semakin berpihak pada peningkatan kesejahteraan petani dan kemajuan pertanian Indonesia. (Casandra Editya/BPMI Setpres)



Posting Komentar