
Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 Bambang Soesatyo (Bamsoet) saat menghadiri Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (14/8/2026), (Foto: DPR RI)
Jakarta, SBNNEWS.ID - Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI
ke-15 Bambang
Soesatyo (Bamsoet), menilai Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (RUU APBN) 2027 dan Nota Keuangan yang disampaikan Presiden
Prabowo Subianto di hadapan Rapat Paripurna DPR RI, Jumat (14/8/2026), memberikan
gambaran arah pembangunan Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi ke
depan.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2027 sebesar 6 persen, inflasi 2,5 persen, nilai tukar rata-rata Rp 17.500 per dolar AS, serta defisit anggaran sebesar 2,4 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Target tersebut cukup berani karena ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Karena itu, RAPBN 2027 harus mampu mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga agar kondisi ekonomi nasional tetap sehat dan stabil.
“Target pertumbuhan ekonomi 6 persen tentu bukan pekerjaan mudah. Tetapi saya melihat target ini penting untuk mendorong Indonesia bergerak lebih cepat. Yang harus kita pastikan, pertumbuhan itu benar-benar terasa di masyarakat. Lapangan kerja bertambah, pendapatan masyarakat meningkat, usaha kecil berkembang, dan daya beli tetap terjaga," ujar Bamsoet usai Rapat Paripurna DPR RI, di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Konsumsi rumah tangga, investasi, industri pengolahan, ekspor, hilirisasi, pariwisata, ekonomi digital dan UMKM perlu bergerak bersama. Pemerintah juga harus menjaga kepercayaan dunia usaha agar investasi terus masuk dan perusahaan berani membuka lapangan kerja baru.
Pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen menunjukkan fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat, tetapi masih diperlukan dorongan tambahan agar target 6 persen dapat tercapai.
Dengan selisih tersebut, pemerintah harus mengelola pembiayaan secara hati-hati agar kesehatan fiskal tetap terjaga. Defisit yang ditargetkan 2,4 persen dari PDB menunjukkan pemerintah masih menjaga batas aman fiskal. Namun, kehati-hatian anggaran tidak boleh membuat program yang benar-benar dibutuhkan masyarakat justru kehilangan dukungan.
Bansoet yang juga Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini menuturkan, delapan prioritas pemerintah dalam RAPBN 2027, yaitu kedaulatan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur dan perumahan, penguatan ekonomi kerakyatan serta pembangunan desa, dan penurunan kemiskinan, sudah menyentuh persoalan yang langsung dihadapi masyarakat.
Namun, setiap program harus memiliki hasil yang jelas. Ketahanan pangan misalnya, harus membuat petani lebih produktif dan harga pangan lebih stabil. Program perumahan harus membuat masyarakat semakin mudah memiliki rumah layak. Hilirisasi harus membuka lapangan kerja dan membuat bahan mentah Indonesia memiliki nilai tambah lebih tinggi sebelum dijual ke luar negeri.
“Prioritas pemerintah sudah tepat, tinggal bagaimana pelaksanaannya. Masyarakat harus bisa melihat hasilnya secara langsung. Petani harus semakin sejahtera, harga pangan lebih terjangkau, listrik dan energi tersedia, anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik, layanan kesehatan semakin mudah, dan masyarakat berpenghasilan rendah semakin mudah memiliki rumah. Itulah indikator sederhana apakah APBN benar-benar berhasil dijalankan," kata Bamsoet mengakhiri. (Sofyan Ahmad)


Posting Komentar