Salah satunya terlihat pada Winoto Hadi, ayah dari Aji Bayu Ramadhan, salah satu lulusan terbaik. Winoto mengaku bersyukur atas pencapaian sang anak yang diraih melalui perjuangan panjang di tengah segala keterbatasan.
“Kami orang tua dari Aji Bayu Ramadhan merasa bangga karena ini mencapai prestasi tertinggi dengan segala macam keterbatasan yang kami punya, bisa mengantar anak kami untuk sampai di titik ini,” ungkapnya.
Winoto mengatakan bahwa Aji telah dibiasakan hidup disiplin sejak kecil dan aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi maupun perlombaan. Menurutnya, nilai kedisiplinan menjadi bekal utama yang selalu ditanamkan dalam keluarga.
“Aji ini kita didik disiplin, disiplin waktu terutama itu dari itu. Ya, Aji ini dari kecil memang suka berorganisasi, suka mengikuti lomba-lomba yang menurut dia memang dia sukanya itu semua itu masuk dari pramuka, olahraga,” tuturnya.
Ke depan, ia berharap Aji dapat terus mengembangkan kemampuan dan mewujudkan impiannya. “Semoga nanti Aji bisa mencapai cita-citanya, karena dia pengin kuliah ke luar negeri untuk memperdalam ilmunya. Semoga nanti akan diberikan kemudahan untuk mencapai apa yang diinginkan,” ungkapnya.
Kebahagiaan dan kebanggaan serupa juga dirasakan Wartoyo dan Siti Sofiyah, orang tua dari Mohamad Toriq Anwar yang masuk dalam jajaran 10 besar lulusan terbaik. Pasangan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani tersebut berharap putranya kelak dapat mengabdikan diri dan memberikan kontribusi terbaik untuk Tanah Air.
“Tentunya saya sangat bangga sekali anakku bisa masuk sepuluh besar, yang merupakan kenikmatan yang luar biasa. Ya mudah-mudahan ke depannya akan lebih baik lagi. Minta pada Bapak Presiden mudah-mudahan anak saya bisa dibimbing untuk ke jalan yang sebenar-benarnya, untuk melantik kepada negara,” ujarnya.
Perasaan yang sama turut dirasakan Abu Muhammad dan Yuliastin, orang tua Siti Ifadoh. Keduanya mengaku tidak pernah membayangkan putri mereka mampu meraih predikat sebagai salah satu lulusan pamong praja muda terbaik.
“Haru, bangga semua jadi satu. Tidak menyangka,” pungkasnya.
Di balik prestasi yang diraih para pamong praja muda ini, tersimpan doa, dukungan, dan harapan keluarga. Perjuangan dilalui dalam mencapai prestasi tersebut juga menjadi cerminan semangat dan ketekunan generasi muda Indonesia dalam meraih cita-cita serta mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.
Pelantikan tersebut juga menjadi momen bersejarah bagi para purna praja. Di balik prosesi tersebut, tersimpan kisah perjuangan, dukungan keluarga, serta cita-cita besar para lulusan terbaik untuk mengabdi kepada masyarakat.
Pelantikan Pamong Praja Muda (PPM) menjadi semakin bersejarah karena dilantik langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Bagi para purna praja, momen tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan penghormatan atas perjalanan panjang yang ditempuh dengan kerja keras, doa, dan dukungan keluarga.
Di antara 1.204 lulusan, nama Aji Bayu Ramadhan mencatatkan prestasi sebagai lulusan terbaik pertama. Berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, Aji mengaku masih sulit menyembunyikan rasa harunya menjelang pelantikan.
“Saya sangat berasa bersyukur dan juga sangat terhormat pada kesempatan yang sangat berharga ini, kami akhirnya bisa dilantik oleh Bapak Presiden Prabowo secara langsung. Tentunya kami selaku Angkatan 33 Triantama merasa sangat bersyukur, karena pada momen ini, momen yang sangat kami tunggu-tunggu selama 4 tahun kami akan dilantik langsung oleh Pak Prabowo dan ini menjadi sebuah kebanggaan bagi kami tersendiri,” ujar Aji penuh haru.
Prestasi tersebut bukan diraih tanpa perjuangan. Menurut Aji, pendidikan di IPDN menuntut keseimbangan antara pengajaran, pelatihan, dan pengasuhan. Ketiga aspek itu harus dijalani secara bersamaan dengan disiplin dan dedikasi yang tinggi. Baginya, keberhasilan bukan hanya soal bekerja keras sesaat, tetapi tentang menjaga konsistensi setiap hari.
“Konsistensi lebih tinggi daripada intensitas. Jadi kita ingin melakukan sesuatu, kita tidak perlu harus menggamblengkan semuanya secara full, secara waktu penuh, tapi kita cukup memaksimalkan poin-poin tertentu, kita fokus ke situ dengan konsistensi tiap harinya, membentuk habit ataupun karakter yang akan membangun diri kita lebih baik lagi,” tuturnya, menyampaikan pesan kepada generasi muda Indonesia.
Di balik pencapaiannya, Aji mengaku doa orang tua menjadi sumber kekuatan terbesar. Di tengah jadwal pendidikan yang padat, rasa lelah, hingga kondisi fisik yang terkadang menurun, keluarganya selalu hadir memberikan semangat untuk terus melangkah.
“Pencapaian yang saya dapat sampai saat ini adalah semua berkat doa orang tua. Pribadi, kami juga sangat bekerja keras dan juga disiplin dalam belajar, menempuh segala macam pola pendidikan yang ada di IPDN, dan juga rasanya orang tua selalu mendukung dan selalu berdoa. Setiap ada saya masalah, setiap ada mungkin demotivasi, orang tua selalu memberikan motivasi yang terbaik, mengarahkan lagi dan juga memperkokoh visi saya ke depan agar lebih baik lagi,” imbuh Aji.
Semangat serupa juga terpancar dari Mohamad Toriq Anwar, salah satu lulusan terbaik asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Sejak pertama kali memasuki IPDN, ia telah menanamkan cita-cita menjadi lulusan terbaik.
“Saya sangat bangga dan bersyukur. Karena setelah sekian lama, pelaksanaan pendidikan selama 4 tahun dengan proses yang panjang, tiba harinya di mana kami akan mulai pengabdian untuk mengabdi kepada bangsa dan negara, dan dilantik oleh Presiden Republik Indonesia tentu merupakan suatu kebanggaan dan suatu rezeki bagi kami yang sangat luar biasa, yang harus selalu kita syukuri,” ujar Toriq.
Perjalanan tersebut juga tidak lepas dari dukungan kedua orang tuanya yang selalu menjadi tempat berbagi cerita, keluh kesah, sekaligus sumber motivasi selama menjalani pendidikan.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua saya yang tidak pernah lelah, berjuang, berdoa, selalu mengharapkan yang terbaik untuk anaknya, selalu menjadi tempat keluh kesah, tempat untuk mengadu, bercurhat, dan sebagainya bagi saya selama di sini, karena tentu dalam laksanakan pendidikan banyak sekali dinamika di lembaga ini,” imbuh Toriq.
Sementara itu, Charina Anggie Simbolon, salah satu lulusan terbaik yang berasal dari Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, membuktikan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjuangan. Sebelum diterima di IPDN, Anggie sempat gagal pada kesempatan pertama. Alih-alih menyerah, ia kembali mempersiapkan diri hingga akhirnya berhasil lolos pada percobaan berikutnya. Ketekunan itu kini membawanya menjadi salah satu lulusan terbaik Angkatan XXXIII.
“Perasaan saya sangat bahagia, penuh syukur, karena suatu kehormatan bagi kita, lulusan Pamong Praja Muda, untuk dilantik Bapak Presiden dan ini adalah momen yang sangat-sangat kami impikan dan sangat-sangat kami nantikan,” ujar Anggie.
Putri dari seorang prajurit TNI Angkatan Darat berpangkat Pembantu Letnan Satu (Peltu) dan seorang ibu rumah tangga itu mengaku kedua orang tuanya selalu memberikan dukungan penuh terhadap cita-citanya. Impian sang ayah agar anak-anaknya dapat menjadi pemimpin menjadi penyemangat tersendiri selama menjalani pendidikan.
Para Pamong Praja Muda menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas kesediaannya melantik Pamong Praja Muda Angkatan XXXIII secara langsung. Kehadiran Presiden Prabowo menjadi kehormatan sekaligus penyemangat bagi mereka untuk mengawali pengabdian kepada masyarakat. (Basyirun Adhim/BPMI Setpres)







Posting Komentar