Mengenal Kelompok Anarko: Perusak Demo yang Incar Anak Muda

Ilustrasi kelompok Anarko

SBNNEWS.ID - Pernahkah Anda melihat sekelompok orang berpakaian serba hitam, memakai masker, dan membawa bendera dengan simbol huruf 'A' di tengah kerumunan demonstrasi? Mereka dikenal sebagai kelompok Anarko. 

Kehadiran mereka sering kali menjadi sinyal bahwa sebuah aksi damai bisa berubah menjadi bentrokan fisik yang berujung pada kerusakan fasilitas umum di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Surabaya.

Fenomena kelompok Anarko di Indonesia belakangan ini bukan sekadar vandalisme biasa, melainkan sebuah gerakan terorganisir namun tanpa pemimpin (desentralisasi). Berdasarkan investigasi lapangan, kelompok ini mayoritas diisi oleh kalangan remaja yang secara emosional masih mencari jati diri. 

Usia muda ini menjadi sasaran empuk karena mereka mudah terpancing oleh narasi 'perlawanan' dan 'kebebasan mutlak'. Bagi para remaja ini, bergabung dengan Anarko memberikan rasa memiliki dan keberanian untuk melawan aturan yang mereka anggap menindas.

Secara ideologi, Anarko berakar pada paham anarkisme. Intinya, mereka tidak percaya pada pemerintah, hukum, atau pemimpin manapun. Mereka menganggap semua bentuk aturan adalah alat untuk menjajah rakyat kecil. 

Inilah yang membuat mereka selalu menolak berdialog dengan pihak berwenang. Ciri fisik mereka sangat mudah dikenali melalui taktik 'Black Bloc', yaitu penggunaan atribut serba hitam agar identitas mereka sulit dikenali oleh kamera pengawas (CCTV) maupun intel aparat keamanan saat kerusuhan pecah.

Bagaimana cara mereka bekerja? Kelompok ini tidak memiliki kantor pusat atau struktur komando seperti organisasi pada umumnya. Mereka bergerak dalam sel-sel kecil yang disebut 'affinity groups'. 

Komunikasi dilakukan secara sangat tertutup melalui aplikasi pesan digital seperti WhatsApp atau Telegram. Di sana, mereka berbagi instruksi tentang titik kumpul hingga strategi melakukan aksi langsung atau 'direct action'.

Modus operandi yang sering digunakan adalah menyusup ke tengah aksi massa yang sedang dilakukan oleh buruh atau mahasiswa. Ketika suasana mulai memanas, kelompok Anarko akan melakukan tindakan provokatif, seperti melempar batu ke arah petugas atau merusak pagar gedung pemerintah. 

Tujuannya jelas, menciptakan kekacauan sehingga aparat terpaksa bertindak tegas. Saat bentrokan terjadi, tujuan utama demonstrasi yang sebenarnya (seperti menuntut kenaikan upah atau keadilan hukum) sering kali tenggelam oleh berita kerusuhan yang mereka ciptakan.

Dampak jangka panjang dari pergerakan ini sangat merugikan bagi demokrasi di Indonesia. Selain kerusakan fisik fasilitas publik yang dibiayai pajak rakyat, kehadiran Anarko membuat aspirasi murni dari mahasiswa dan buruh menjadi ternoda. 

Publik sering kali menyamaratakan semua demonstran sebagai pembuat onar, padahal ada kelompok penyusup yang memang sengaja merancang skenario kerusuhan tersebut demi propaganda mereka sendiri demi memuaskan ego ideologi mereka yang anti-negara.

Click to Comment!

0/Post a Comment/Comments