SBNNEWS.ID - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) bersiap memasuki era baru kekuatan maritim dengan rencana peresmian kapal induk pertamanya, KRI Gajah Mada, pada September 2026.
Kapal yang sebelumnya merupakan aset Marina Militare Italia bernama Giuseppe Garibaldi tersebut saat ini dilaporkan tengah dalam pelayaran menuju Jakarta.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengonfirmasi bahwa kapal tersebut telah bertolak dari Italia sejak akhir Agustus 2026.
Melintasi Laut Tengah, Terusan Suez, hingga Laut Merah, kapal ini dijadwalkan tiba di perairan Indonesia bulan ini untuk menjalani proses serah terima akhir sebelum resmi memperkuat jajaran armada TNI AL.
Memiliki panjang 180 meter dengan bobot benaman mencapai 14.000 ton, KRI Gajah Mada dirancang sebagai platform multifungsi. Meskipun awalnya dibangun untuk pesawat tempur STOVL (Short Take-Off and Vertical Landing), Jakarta memilih strategi operasional yang lebih adaptif dengan memfokuskan kapal ini sebagai pengusung helikopter dan pesawat nirawak (UAV).
Salah satu alutsista utama yang akan disiagakan adalah drone Bayraktar TB3 asal Turki, yang memiliki fitur sayap lipat khusus untuk operasi dari dek kapal dengan ruang terbatas.
Langkah akuisisi ini dipandang sebagai solusi strategis untuk mengatasi tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Dengan kecepatan mencapai 30 knot melalui empat turbin gas, KRI Gajah Mada mampu memproyeksikan kekuatan logistik, pengintaian, dan pengawasan di wilayah terpencil tanpa bergantung pada pangkalan udara di darat.
Selain fungsi militer, kapal ini akan memegang peranan krusial dalam operasi bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana (HADR) sebagai pusat komando bergerak.
Secara geopolitik, kehadiran KRI Gajah Mada mempertegas posisi Indonesia di kawasan Indo-Pasifik, terutama dalam menjaga stabilitas di wilayah strategis seperti Laut Natuna Utara. Sebagai pendukung operasional, pemerintah telah membangun fasilitas pangkalan angkatan laut baru di Lampung, Sumatra Selatan.
Melalui kerja sama dengan Fincantieri untuk modernisasi sistem, Indonesia berhasil memperoleh kemampuan tempur canggih dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan membangun platform baru dari nol.
