Latihan intensif ini dirancang untuk menguji ketangkasan, koordinasi taktis, dan interoperabilitas antarpasukan di medan tempur.
Latihan yang dipusatkan di wilayah kerja Brigif 4 Marinir/BS ini menuntut tingkat ketelitian, kecepatan, dan ketepatan yang tinggi dari setiap personel. Delegasi dari tiap negara peserta saling menguji keterampilan teknis dalam mengoperasikan unit mortir, yang merupakan salah satu senjata bantuan infanteri paling krusial dalam operasi darat.
Selain aspek teknis individu, latihan ini menekankan pentingnya membangun komunikasi dan koordinasi yang solid antarunsur militer lintas negara demi mencapai kesamaan prosedur operasional standar (SOP).
Komandan Batalyon Infanteri 7 Marinir, Letkol Mar Muhammad Kristian Widiantoro, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah momentum strategis untuk memperkuat kerja sama militer internasional. Menurutnya, pemahaman yang seragam mengenai prosedur di lapangan menjadi faktor kunci dalam mendukung keberhasilan operasi bersama di masa depan.
"Latihan ini merupakan momentum penting untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan prajurit, sekaligus memperkuat kerja sama serta interoperabilitas antara TNI dan pasukan tiap-tiap negara," ujar Letkol Mar Muhammad Kristian Widiantoro.
Selain latihan mortir, para peserta juga mengikuti simulasi menembak lorong reaksi. Skenario ini bertujuan untuk melatih naluri tempur prajurit dalam menghadapi ancaman mendadak di area terbatas dengan presisi tinggi.
Latgabma SGS 2026 sendiri merupakan salah satu ajang latihan militer multilateral terbesar di kawasan yang melibatkan ribuan personel dari berbagai negara mitra strategis. Melalui kegiatan ini, TNI AL tidak hanya bertujuan mengasah kemampuan tempur profesional, tetapi juga berperan aktif dalam menjaga stabilitas keamanan di kawasan Indo-Pasifik melalui diplomasi militer yang kuat dan transparan.
