SBNNEWS.ID - Dunia militer Indonesia kembali bergemuruh. Publik tanah air dihebohkan oleh babak baru modernisasi pertahanan laut menyusul kehadiran kapal induk asal Italia, eks-ITS Giuseppe Garibaldi, yang kini resmi mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih dengan nama KRI Sriwijaya.
Gelombang kehebohan ini langsung menarik ingatan publik ke masa lalu—tepatnya pada dekade 1960-an, ketika Indonesia pernah mencatatkan sejarah besar mendatangkan kapal penjelajah (cruiser) terbesar asal Uni Soviet, KRI Irian, demi menggentarkan musuh dalam kampanye pembebasan Irian Barat.
Lantas, di balik kembalinya era "kapal raksasa" ke perairan nusantara, muncul sebuah pertanyaan besar yang menggelitik: Apakah kedatangan KRI Sriwijaya ini benar-benar menjadi tanda kebangkitan sejati TNI Angkatan Laut, ataukah kita harus belajar dari sejarah pahit masa lalu agar tidak sekadar menjadi macan kertas?
Refleksi Masa Lalu: Ambisi Besar KRI Irian
Pada masanya, KRI Irian adalah sebuah monster besi yang menakutkan di kawasan Asia-Pasifik. Dengan bobot belasan ribu ton dan persenjataan meriam raksasa, kapal ini menjadi simbol kekuatan Blok Timur yang membuat nyali lawan ciut.
![]() |
| KRI Irian kapal destroyer terbesar TNI AL |
Namun, sejarah mencatat ironi besar. Ketergantungan penuh pada suku cadang asing, perubahan peta politik nasional, serta biaya perawatan yang selangit membuat KRI Irian akhirnya mangkrak dan pensiun tanpa sempat membuktikan tajinya dalam pertempuran terbuka. Ia menjadi pelajaran mahal bahwa memiliki kapal besar jauh lebih mudah daripada merawat keberlanjutannya.
Revolusi Doktrin: Wajah Baru KRI Sriwijaya
Kini, melalui KRI Sriwijaya, TNI AL menapaki era yang sama sekali berbeda. Sebagai kapal induk ringan pertama Indonesia yang dilengkapi dek penerbangan (flight deck), kapal ini bukan sekadar alat unjuk kekuatan meriam konvensional, melainkan sebuah pusat komando terapung (Floating Command and Control Platform).
Kri Sriwijaya membawa angin segar bagi doktrin power projection (proyeksi kekuatan). Kehadirannya memperluas jangkauan operasi udara maritim, memperkuat perang anti-kapal selam, sekaligus memberikan fleksibilitas tinggi dalam misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Menakar Indikator Kebangkitan TNI AL
Kehadiran KRI Sriwijaya jelas merupakan lompatan monumental (milestone) yang mengubah peta keseimbangan kekuatan di kawasan regional. Indonesia kini kembali disegani sebagai segelintir kekuatan maritim di bumi bagian selatan yang mengoperasikan kapal berdek penerbangan.
Kendati demikian, indikator kebangkitan TNI AL tidak boleh hanya diukur dari kemegahan fisik kapalnya semata. Agar tidak mengulangi takdir tragis KRI Irian, TNI AL harus memastikan kesiapan ekosistem pendukungnya seperti memastikan ketersediaan suku cadang dan sistem pemeliharaan yang terintegrasi. Menyiapkan ratusan personel terlatih serta memastikan KRI Sriwijaya dikawal oleh armada pendukung tangguh seperti fregat modern dan kapal selam mutakhir dalam format Carrier Strike Group. Mengoptimalkan fungsi strategis kapal ini sesuai dengan tantangan geopolitik maritim modern.
![]() |
| KRI Sriwijaya memasuki perairan RI dengan dikawal dua kapal perang |
KRI Sriwijaya adalah bukti nyata bahwa ambisi Indonesia untuk menjadi Blue-Water Navy yang disegani tidak pernah padam. Ia adalah simbol kebangkitan psikologis dan modernisasi yang membanggakan. Namun, pertahanan laut yang tangguh tidak dibangun hanya dari ukuran fisik kapalnya, melainkan dari kedisiplinan perawatan, kemandirian logistik, dan strategi matang yang menjadikannya kekuatan yang benar-benar mematikan di lautan.

.jpg)
.jpg)