SBNNEWS.ID - Kantor Atase Pertahanan Republik Indonesia di KBRI Bangkok menyelenggarakan kursus Bahasa Indonesia dengan Tajuk BIPA - PRIMA 2026 (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing – Program Intensif untuk Militer Asing).
Program ini merupakan inisiatif Kantor Athan Bangkok bekerjasama dengan Association of Indonesia Language Teacher and Practicioner for Foreign Speaker / Asosiasi Pengajar dan Praktisi Bahasa Indonesia untuk penutur Asing (APPBIPA).
Kegiatan belajar diselenggarakan secara online sebanyak
20 kali pertemuan.
BIPA - PRIMA 2026 tidak hanya menjadi sarana untuk memperkenalkan dan meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia. Lebih dari itu, program ini menjadi bagian dari upaya Kantor Athan RI di Bangkok untuk membangun komunikasi, saling pengertian, serta memperkuat hubungan antarpersonel militer Indonesia dan Tailan.
Upacara pembukaan BIPA - PRIMA 2026 dipimpin oleh Duta Besar LBBP RI untuk Tailan dan utusan tetap untuk UNESCAP, Bapak Hari Prabowo dan dihadiri oleh DCM KBRI Bangkok, Athan, Atal, Atud dan Asathan serta para Korfung dan Atnis KBRI Bangkok
Dalam amanatnya, Bpk Hari Prabowo menekankan tentang pentingnya peningkatan hubungan kerjasama kedua negara khususnya dibidang pertahanan. Kegiatan Kursus bahasa Indonesia BIPA-PRIMA 2026 menjadi moment penting dan kami optimis program ini akan memberikan manfaat positif.
Program BIPA PRIMA 2026 diikuti oleh 25 peserta dari jajaran Ministry of Defence (MoD), Royal Thai Armed Forces (RTARF), Royal Thai Army (RTA), Royal Thai Navy (RTN) dan Royal Thai Air Force (RTAF).
Animo megikuti BIPA - PRIMA dinilia cukup tinggi, hal ini terlihat dari jenjang kepangkatan Para peserta yang sangat beragam, mulai dari pangkat Sersan hingga Kolonel dari Angkatan Bersenjata Tailan.
Secara terpisah, Athan RI di Bangkok, Kolonel Dr. Faisal Hutagalung menyampaikan bahwa Program BIPA - PRIMA 2026 diharapkan menjadi salah satu kontribusi nyata dalam memperkokoh hubungan persahabatan antara Indonesia dan Tailan serta mendorong semakin eratnya kerja sama pertahanan kedua negara.
Menurutnya, ketika personel militer kedua negara dapat
berkomunikasi dan memahami satu sama lain dengan lebih baik, terbuka pula ruang
yang lebih luas untuk membangun kepercayaan, meningkatkan interoperabilitas
komunikasi, dan memperkuat kerja sama Pertahanan.


