SBNNEWS.ID - Menteri Pertahanan Sudan, Letnan Jenderal Hassan Daoud Kabroun Kayan, menyatakan ketertarikannya terhadap produk persenjataan buatan PT Pindad saat mengunjungi Kementerian Pertahanan RI di Jakarta, Rabu (9/9).
Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam penjajakan diplomasi pertahanan kedua negara di tengah dinamika keamanan di kawasan Afrika Utara.
Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengonfirmasi bahwa delegasi Sudan telah melihat langsung sejumlah varian senjata ringan produksi dalam negeri.
Rico menjelaskan bahwa pihak PT Pindad memberikan paparan komprehensif mengenai karakteristik teknis serta efektivitas produk-produk tersebut di berbagai medan operasi kepada Menhan Sudan dan jajarannya.
Meskipun menunjukkan minat yang signifikan, Rico menekankan bahwa pertemuan tersebut belum masuk pada tahap kesepakatan pembelian atau kontrak komersial. Saat ini, Indonesia dan Sudan sedang mengupayakan penyusunan dokumen formal karena kedua negara belum memiliki payung hukum kerja sama pertahanan bilateral yang tetap.
Rencana kemitraan ini nantinya akan disusun dalam kerangka Defence Cooperation Arrangement (DCA) yang melibatkan tim ahli dalam Working Group.
Pembahasan dalam Working Group tersebut akan mencakup lingkup yang luas, mulai dari kurikulum pendidikan militer, program pelatihan bersama, hingga kerja sama industri strategis.
Terkait potensi ekspor senjata, Rico menegaskan bahwa Indonesia akan menerapkan batasan teknis yang sangat ketat. Langkah ini merupakan bagian dari prosedur standar ekspor alutsista Indonesia untuk menjamin penggunaan yang bertanggung jawab sesuai hukum internasional.
Isu mengenai konflik internal di Sudan yang melibatkan Sudanese Armed Forces (SAF) dan Rapid Support Forces (RSF) juga menjadi perhatian dalam diskusi teknis tersebut.
Indonesia secara tegas menyatakan posisinya yang tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif serta prinsip defensive aktif. Hal ini berarti Jakarta tidak akan terlibat dalam polarisasi kekuatan di Sudan maupun mencampuri urusan domestik negara tersebut.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan terus memantau situasi dan berharap stabilitas keamanan serta keselamatan warga sipil di Sudan dapat segera pulih.
Diplomasi pertahanan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan bilateral tanpa mencederai komitmen perdamaian global yang selama ini dijunjung tinggi oleh Indonesia.

