Hal tersebut diungkapkan Sjafrie Sjamsoeddin saat melakukan kunjungan kerja ke Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 827/Mahakam Cakti Yudha (MCY) di Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (13/1/2026).
"Kamu bisa berlatih di dalam negeri dan kamu bisa berlatih di luar negeri. Oleh karena itu, sekarang sudah ada program untuk pembinaan bahasa Inggris. Saya minta kalian tercipta suatu kemauan untuk belajar bahasa Inggris," kata Sjafrie Sjamsoeddin.
Kunjungan tersebut dalam rangka meninjau kesiapan satuan sekaligus memberikan arahan terkait pembinaan personel TNI ke depan. Diketahui, TNI sedang giat membangun Yonif TP di berbagai wilayah Indonesia.
"Supaya kamu bisa ikut aktif dalam suatu hubungan militer di lingkungan internasional. Kamu tidak boleh jago kandang. Tapi kamu harus keluar untuk menunjukkan bahwa kamu adalah Tentara Nasional Indonesia," kata Sjafrie Sjamsoeddin.
Menhan yang juga pernah menjabat sebagai Pangdam Jaya ini juga berpesan agar semangat merah putih selalu terpatri di hati sanubari setiap prajurit.
"Kalian semua berasal dari beragam suku, beragam agama, beragam etnis, akan tetapi pada saat kalian duduk di sini dan berlatih, kamu mengabdi sebagai prajurit," kata mantan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan (Sekjen Dephan) ini.
"Tidak ada lagi perbedaan satu sama lain. Yang ada adalah prajurit Tentara Nasional Indonesia yang mempunyai jiwa Bhinneka Tunggal Ika. Kita boleh beragam, tapi kita punya satu, yaitu Tentara Nasional Indonesia. Tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional, dan tentara profesional," tandasnya.
Menhan yang juga lulusan terbaik peraih Adhi Makayasa Akabri 1974 ini menekankan bahwa tugas utama Batalion Infanteri adalah mencari dan menaklukan musuh.
“Di tempat ini, saya ingin memacu semangatmu agar kamu terus berlatih. Kamu adalah prajurit Batalion Infanteri, yang bertugas untuk mencari, menemukan, dan menghancurkan musuh. Kamu harus tunjukkan dirimu di daerah operasi, bahwa kamu adalah prajurit-prajurit infanteri. Jelas?,” kata Sjafrie kepada para prajurit.
“Siap, jelas!,” jawab mereka kompak.
Menhan Sjafrie yang dalam karir militernya dibesarkan di Kopassus TNI-AD ini mengatakan, nama Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan dipilih agar para prajurit bisa membantu pembangunan yang ada di sekeliling mereka.
“Kita bisa membantu pemerintah di dalam mengatasi kesulitan di dalam pembangunan. Itulah sebabnya kalian disusun di dalam satu kompi. Ada kompi pertanian, peternakan, dan juga ada kesehatan dan konstruksi. Ini semua untuk memberi kemampuan tambahan kepada kalian,” kata Menhan RI.
Mantan Kapuspen TNI ini meminta para prajurit terus berlatih dan bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Prajurit TNI, menurut Sjafrie, harus bisa bersatu dan tahu kesulitan rakyat.
“Oleh karena itu, tiada hari tanpa kamu berlatih. Tiada hari tanpa kamu berhubungan dengan rakyat. Karena rakyat itu adalah ibarat ikan dengan air bersama prajurit TNI,” kata mantan Komandan Grup A Paspampres era Presiden Soeharto ini.
“Ini kamu harus camkan betul sebagai prajurit Batalion Infanteri 827, agar kamu bisa menjadi prajurit yang andal, kamu bisa menjadi prajurit tempur yang disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan,” tutur Menhan.
Saat menyalami salah satu prajurit, Sjafrie sempat menanyakan pilihannya antara mengikuti pendidikan atau menjalani penugasan operasi.kepada prajurit yang baru saja berdemonstrasi olahraga pencak silat sambil mengalungi medali yang mereka raih.
Setelah memberikan hormat kepada Sjafrie, prajurit itu memperkenalkan diri dan mengungkapan asal daerah.
"Siap, (asal) Bima, Nusa Tenggara Barat," ucap prajurit tersebut sambil bersalaman dengan Sjafrie.
Pada momen ini, dia juga mengungkapkan bahwa tengah menginjak usia 25 tahun. "25? Kamu masuk tamtama umur berapa?" tanya Sjafrie.
"Siap, izin. 20 tahun," jawab prajurit tersebut.
Setelah mendengar pengakuan ini, Sjafrie langsung menengok ke arah Komandan Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan 85/Benuo Taka Cakti Kolonel Inf. Alzaki dan Komandan Yonif TP 827/MCY Letkol Inf Syarifuddin Sinaga yang berada di samping kirinya.
Sjafrie juga berbincang dengan Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi Revita yang berada tepat di belakangnya.
Namun, pembicaraan mereka tidak terdengar. Sjafrie kemudian berjabat tangan sambil menepuk-nepuk pundak kanan prajurit tersebut.
"Sudah 25 tahun. Kamu sudah pernah tugas operasi?" tanya Sjafrie.
Pada kesempatan ini, Sjafrie menaruh kedua tangannya ke pundak kanan dan kiri prajurit tersebut.
Sambil menatap mata sang prajurit, Sjafrie pun memberikan dua pilihan kepadanya.
"Kamu tugas operasi, atau sekolah? (Pilih) mana? Kau pikir," tanya Sjafrie lagi dengan tegas.
Kendati demikian, prajurit tersebut gugup terhadap pertanyaan Sjafrie. Dia hanya menjawab dengan normatif.
"Siap, izin petunjuk" kata prajurit.
"Bukan petunjuk, kau pilih mana? Mau tugas operasi atau tugas pendidikan?" tanya lagi Sjafrie sambil memberikan penekanan.
Dengan lantang, prajurit tersebut memilih sekolah pendidikan.
Sjafrie langsung menepuk tangannya ke pundak sang prajurit lalu menoleh ke arah Alzaki. Wakil Panglima TNI yang berada di belakang Sjafrie juga tersenyum.
"Kamu enggak mau tugas operasi?" tanya Sjafrie.
"Siap, mau" jawab prajurit.
"Karena dia bingung, tapi dia ingin yang terbaik," timpal Alzaki.
Dalam hal ini, Sjafrie menjelaskan kepada sang prajurit bahwa kalau tugas operasi, seorang prajurit akan menjalani pendidikan.
"Kalau pendidikan, belum tentu operasi. Jelas ya?" kata Sjafrie.
"Siap, jelas," jawab prajurit itu dengan tegas.





Posting Komentar